Silaturahmi kepada guru saat Lebaran lebih dari tradisi sosial tahunan. Ia adalah wujud rasa syukur kepada para pewaris ilmu nabi, bentuk nyata adab penuntut ilmu, sekaligus jalan tol untuk merawat keberkahan ilmu itu sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk menyambung silaturahmi keluarga di hari raya, sering kali ada sosok penting yang terlupakan, yaitu para guru ngaji, ustadz, kiai, atau guru sekolah kita. Padahal, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menanamkan fondasi moral dan keilmuan dalam kehidupan kita. Idul Fitri sejatinya mengandung momentum krusial untuk memperkuat hubungan sosial, termasuk para pendidik. Sering kali kita menganggap bahwa mengunjungi guru hanya sebatas formalitas tahunan, padahal aktivitas ini adalah wujud nyata dari pengamalan anjuran Rasulullah saw mengenai keutamaan menyambung tali silaturahmi: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي
أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan rezekinya ditambah
dan umurnya diperpanjang,hendaklah ia menjaga silaturahmi.” (HR Bukhari dan
Muslim).
Guru dalam Tradisi Islam: Lebih dari Pengajar, Posisi guru dalam tradisi keilmuan Islam
sangatlah mulia. Mereka tidak hanya bertugas sebagai pentransfer ilmu
pengetahuan, melainkan juga sebagai pembentuk akhlak dan karakter muridnya.
Oleh karena itu, Islam memandang para guru dan ulama sebagai penerus tongkat
estafet perjuangan para nabi. Rasulullah SAW bersabda:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ،
وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا
الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi,
dan para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham; mereka mewariskan ilmu.
Barangsiapa yang mengambilnya, ia akan memperoleh bagian yang melimpah.” (HR
Abu Dawud).
Atas dasar keilmuan dan statusnya sebagai pewaris para nabi,
guru selalu ditempatkan pada maqam yang tertinggi. Imam Abu Hamid al-Ghazali
menilai derajat guru bahkan melebihi orang tua biologisnya. Sebab, gurulah yang
mengantarkan seseorang untuk memahami pengetahuan akhirat:
حَقُّ الْمُعَلِّمِ أَعْظَمُ مِنْ حَقِّ الْوَالِدَيْنِ؛ فَإِنَّ
الْوَالِدَ سَبَبُ الْوُجُودِ الْحَاضِرِ وَالْحَيَاةِ الْفَانِيَةِ،
وَالْمُعَلِّمَ سَبَبُ الْحَيَاةِ الْبَاقِيَةِ
Artinya, “Hak seorang guru lebih besar daripada hak kedua
orang tua; karena sesungguhnya orang tua adalah sebab adanya keberadaan anak di
dunia saat ini dan kehidupan yang fana, sedangkan guru adalah sebab bagi
kehidupan akhirat yang kekal.” (Ihya 'Ulumiddin, [Beirut: Dar Al-Ma’rifah, tt],
juz I, halaman 55) Untuk itu, menghormati guru merupakan kunci utama untuk
meraih keberkahan dan kemanfaatan ilmu. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh
Syekh Burhanuddin al-Zarnuji:
اعْلَمُ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا
يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيمِ
الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ
Artinya, "Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak
akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat darinya
(keberkahan), kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahli ilmu, serta
mengagungkan dan menghormati gurunya." (Ta'lim al-Muta'allim, [Khartoum:
Dar Sudaniyyah, 2004], halaman 25).
Demikianlah, ilmu yang berkah adalah ilmu yang tidak hanya
mengendap di kepala, melainkan tercermin dalam perilaku dan kemanfaatannya bagi
alam semesta. Adab Murid terhadap Guru dalam Tradisi Ulama Para ulama salafus
saleh telah memberikan keteladanan luar biasa mengenai adab terhadap seorang
guru. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, pernah melontarkan
sebuah ungkapan masyhur yang menggambarkan betapa tingginya rasa hormat seorang
murid:
أنا عبد لمن علمني حرفًا واحدًا
Artinya, “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu
huruf.” (Ta'lim al-Muta'allim, [Khartoum: Dar Sudaniyyah, 2004], halaman 25).
Dalam konteks tradisi pesantren di Nusantara, ungkapan
Sayyidina Ali ini dipraktikkan secara nyata melalui budaya sowan atau
berkunjung kepada kiai. Sowan merupakan rutinitas moral dan upaya batin seorang
santri untuk meminta doa, memohon rida, serta menjaga tali silaturahmi agar
senantiasa tersambung meski masa pendidikan formal di pesantren telah usai.
Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menjelaskan bahwa kesuksesan
seorang murid sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia memuliakan gurunya. Beliau
menuturkan:
أنْ يَنْظُرَ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الْإِجْلَالِ وَالتَّعْظِيمِ،
وَيَعْتَقِدَ فِيهِ دَرَجَةَ الْكَمَالِ؛ فَإِنَّ ذَلِكَ أَقْرَبُ إِلَى نَفْعِهِ.
سَمِعْتُ السَّلَفَ يَقُولُونَ: مَنْ لَا يَعْتَقِدُ جَلَالَةَ أُسْتَاذِهِ لَا
يُفْلِحُ
Artinya, “Hendaknya ia (murid) memandang gurunya dengan
pandangan penuh rasa hormat dan pengagungan, serta meyakini bahwa gurunya
memiliki derajat kesempurnaan dalam ilmunya; karena sesungguhnya hal itu lebih
dekat pada kemanfaatan baginya. Aku mendengar para ulama salaf berkata:
Barangsiapa yang tidak meyakini keagungan gurunya, maka ia tidak akan
beruntung.” (Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, [Jombang: Maktabah at-Turats
al-Islamiy, tt], halaman 30).
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa penghormatan tidak
hanya berlaku saat santri masih mukim di pesantren, tetapi juga merupakan
sebuah ikatan yang harus dirawat sepanjang hayat.
Merawat Sanad Melalui Momentum Lebaran Menjadikan Hari Raya
Idul Fitri sebagai momentum silaturahmi kepada guru membawa banyak nilai
spiritual dan sosial, di antaranya:
Pertama, mengingat jasa guru. Kunjungan ini adalah bentuk pengingat
bahwa kita tidak akan mencapai titik kesuksesan saat ini tanpa bimbingan,
didikan, dan kesabaran mereka sejak kita masih kecil. Kedua, menghidupkan adab
murid. Mengunjungi guru adalah manifestasi paling konkret dari adab. Menjaga
tata krama kepada pendidik merupakan prasyarat mutlak turunnya keberkahan atas
ilmu yang telah dipelajari. Ketiga, mengambil doa dan keberkahan.
Dalam tradisi keilmuan pesantren, doa seorang guru atau kiai
diyakini mustajab dan membawa barokah untuk bekal mengarungi kehidupan yang
penuh tantangan. Sayangnya, tantangan saat ini adalah terjadinya pergeseran
nilai di era modern. Sering kali, hubungan antara murid dan guru direduksi
menjadi sebatas ikatan transaksional dan pragmatis. Ketika masa sekolah atau
kuliah selesai, maka selesai pula hubungan tersebut. Padahal, dalam tradisi keilmuan Islam,
hubungan guru dan murid adalah hubungan sanad keilmuan yang bersifat spiritual
dan abadi.
Di sinilah letak urgensi menjaga tradisi silaturahmi, agar
kita terhindar dari krisis adab yang kerap melanda masyarakat modern.
Silaturahmi kepada guru dan kiai saat Lebaran lebih dari tradisi sosial
tahunan. Ia adalah wujud rasa syukur kepada para pewaris ilmu nabi, bentuk
nyata adab penuntut ilmu, sekaligus jalan tol untuk merawat keberkahan ilmu itu
sendiri.
Dengan senantiasa menyambung silaturahmi kepada guru, pada hakikatnya kita sedang menjaga mata rantai sanad keilmuan Islam agar tidak terputus hingga ke generasi mendatang. Wallahu a'lam.
Sumber:
https://islam.nu.or.id /merawat-sanad-keilmuan-melalui-silaturahmi-guru-di-hari-raya
